SEJARAH DESA

SEJARAH DESA TAMBAHARJO

Al-kisah yang diceritakan oleh para sesepuh Desa Tambaharjo. Pada zaman dahulu lewatlah seorang pengembara dari negeri antah berantah yang gagah berani, menurut sejarah pengembara tersebut bernama Wiro Leksono, yang saat itu dihadang oleh kawanan perampok, namun sang pengembara tidak gentar sedikitpun bahkan berani melawan kawanan perampok tersebut, terbukti kawanan perampok  takluk di bawah kaki sang pengembara, Wiro Leksono.

Atas kemenangan tersebut, Wiro  Leksono sebagai orang pertama mulai menetap disana dan mulai “Babat Alas” (membuka lahan belantara hutan) di daerah tersebut dan menjadikan daerah itu menjadi  daerah yang aman, tentram dan damai.

Tersiarlah kabar bahwa  daerah yang didiami Wiro Leksono adalah daerah yang aman dan damai, sehingga mulailah para penduduk mendiami dan bertempat tinggal di sana, sampai akhirnya “sang Pengembara” Wiro Leksono atas  kesepakatan warga sekitar diangkat menjadi demang (Kepala Desa) di daerah tersebut yang menjadikan desa semakin maju dan ramai dan di beri nama “Tambah Rejo”. Dan sekarang lebih dikenal dengan nama Tambaharjo atau desa Runting.

ASAL USUL PETIS RUNTING

Petis runting diambil dari kosa kata “petis” dan “runting”. Petis menurut sejumlah warga Pati adalah semacam makanan cair sedikit kental yang terbuat dari tepung beras kasar yang disangrai. Sementara itu, runting diambil dari nama desa atau salah satu di desa di kelurahan Tambaharjo. Penamaan petis runting bermula dari Desa Runting sehingga dikatakan sebagai petis runting.

Meskipun demikian, istilah petis sebetulnya sudah populer sangat lama di daerah Runting, Wedarijaksa, dan sejumlah daerah di Pati bagian tengah-utara. Beberapa warga Pati tidak banyak yang mengenal petis. Bahkan, masyarakat Pati wilayah selatan banyak yang tidak mengetahui apa itu petis sebagai kuliner yang menggugah selera dari Kota Pati. Legenda Petis hanya berlaku secara getuk tular atau tutur warga sekitar Pati tengah-dan beberapa di utara, mulai dari Desa Bongsri, Runting, hingga Kecamatan Wedarijaksa.

Baru setelah ada sejumlah media yang mempublikasikan petis, maka petis baru diketahui publik sebagai kuliner asli Pati. Saat diketahui publik pula, petis yang dikenal dari Desa Runting sehingga kemudian petis dijuluki dengan penambahan runting sehingga dikenal dengan petis runting. Mengenai asal-usul petis, petis sudah sejak zaman dulu menjadi kuliner legendaris warisan leluhur orang Pati di sekitar daerah Desa Runting, Pati.

Tradisi membuat petis di setiap keluarga biasa dilakukan saat Lebaran Idhul Adha tiba. Hal ini dikarenakan banyaknya daging kambing yang dibagikan saat Idhul Adha. Sementara kita tahu, harga daging kambing cukup mahal sehingga momentum untuk membuat dan memasak petis di Hari Raya Idhul Adha menjadi kesempatan emas bagi warga. Petis khas Pati ini disukai semua kalangan masyarakat lintas generasi.